31 Mei 2017

Menjadi Aku

Setelah berusaha selama 3,5 tahun ini, akhirnya... Akhirnya saya selesai dengan nilai IPK di atas target 3,5. Mencapai nilai IPK sebesar ini tidaklah mudah kalau dalam 7 semester. Biasanya perlu 8-9 semester menyelesaikan dengan mengulang MK yang mendapat mutu rendah (C atau D).

Dulu awal kuliah di UT, saya tak pernah berandai-andai. Bayangan akibat informasi dari para senior, yang cerita kalau di UT itu gampang masuk susah lulus sudah duluan hinggap. Tapi, bagus juga. Karena sejak awal melangkah masuk, saya berusaha semaksimal mungkin.

Perlahan-lahan pun saya mulai mengatur target untuk merasakan semua hal menjadi mahasiswi. Menjadi leader kelompok belajar, Ikut lomba karya ilmiah, memperoleh beasiswa, mengadakan TTM Atpem, mewakili dalam pengajuan proposal pembiayaan penelitian antar kampus dan meraih IPK setidaknya 3,5.

Semuanya saya alami dan memang sulit menjelaskan perasaan ini. Menang lomba, mendapat beasiswa, bergaul dengan teman-teman yang usianya jauh di bawah saya, ikut penelitian, bahkan dikenal baik oleh para tutor (dosen UT, red.) dan akhirnya memperoleh IPK yang saya targetkan.

Pencapaian seperti ini tidak semudah menuliskannya di sini. Saya pernah menangis kecewa setelah UAS, karena satu mata kuliah yang memang sejak awal saya ragukan bisa melewatinya dengan mudah.

Saya juga pernah kesal mendengar langsung segelintir orang yang tadinya teman jelas-jelas bergosip tentang saya, padahal sudah banyak bantuan belajar yang saya berikan pada mereka.

Karya ilmiah yang saya buat hingga harus bolak-balik perpusnas, rumah dan LIPI mencari sumber penelitian. Mengatur jadwal TTM, membayar pengeluaran yang sudah tak terhitung dan bertemu tutor untuk bertanya banyak hal menjadi kebutuhan wajib yang tak bisa dihindari.
Itu belum seberapa dibandingkan mencatat, mengingat, mempelajari bahkan mengulang-ulang pelajaran di saat saya juga masih harus mengurus anak-anak, rumah tangga dan lingkungan sosial.

Maka ketika beberapa hal harus mengalah, saya terpaksa memilih. Apalagi ketika mendapat sebuah proyek besar tahun lalu... Saya mencoret satu kegiatan para ibu yang dilakukan saat weekend.

Setelah itu, saya juga masih harus menekan kegiatan di luar karena mendapat posisi cukup menantang di kantor. Walaupun sifatnya freelance, pekerjaan ini memaksa saya menggunakan lebih banyak waktu dan biar bagaimanapun, kuliah sangat penting. Jadi agar saya tetap bisa belajar di pagi hari, saya meniadakan kegiatan 'santai atau main-main' yang biasa saya lakukan saat bergaul dengan para ibu-ibu.

Sulit juga belajar ketika anak-anak sudah ada di rumah karena selain berisik, meski mereka tidak mengganggu, tapi saya merasa rugi tidak ikut bermain atau berbicara dengan mereka. Toh, mereka-lah alasan utama saya menjadi diri sendiri. Baru setelah anak-anak tidur, saya kembali mengulangi pelajaran secara online atau mengerjakan tugas-tugas kampus. Entah berapa banyak malam-malam yang saya lewati hingga menjelang subuh.

Untuk pendidikan ini, saya membuat blog-blog 'tertidur', tidak aktif di media sosial bahkan memutuskan untuk tidak ikut acara-acara blogger dulu. Saya juga tidak menerima pekerjaan apapun dan baru mulai aktif kembali bekerja di semester terakhir. Itupun pekerjaan freelance.

Namun, saya tak menyesal sama sekali. Saya mendapat apa yang saya mau. Cita-cita anak kecil itu kini menjadi nyata adanya. Impian saya menjadi sarjana untuk bidang yang memang menjadi minat sejak kecil kini menjadi nyata.

Proses wisuda dan sebagainya, tinggal sedikit lagi. Perkiraannya sekitar bulan Maret dan orang yang paling pantas untuk mendampingi saya adalah Mas Ajid, suami saya tercinta.

Dialah yang berkali-kali memberi semangat ketika saya mulai merasa lelah dan bosan. Dia yang selalu mengantar jemput dan menemani saya kemanapun selama proses perkuliahan. Dia juga yang rela mengangkat dan membawa kamus-kamus berat yang harus saya bawa saat ujian.

Dia juga menegur dengan keras ketika saya menangis atau marah tak jelas karena lelah. Dia juga yang mengingatkan ketika tujuan dan arah langkah saya mulai sedikit melenceng. Tanpa suami tercinta, tak mungkin saya bisa melakukan segalanya dan berhasil seperti sekarang.

Pernah satu kali, ketika saya sedang antri mengambil transkrip nilai, seorang ibu mengobrol tentang matkul yang diulang dengan saya. Dia juga sedang kuliah. Saat itu, ia mengeluhkan beberapa mata kuliah yang gagal dan harus mengulang.

Saat ia bertanya, saya menjawab dengan polos bahwa saya tak perlu mengulang karena sudah dapet nilai B tapi karena suka mata kuliahnya dan suami juga pikir perlu mengulang pelajaran makanya saya ambil lagi.

Saat itu, tanpa sadar saya bercerita tentang bantuan suami yang selalu mendampingi dengan setia. Saat saya selesai, mata ibu itu berkaca-kaca dan berbisik pelan betapa beruntungnya saya karena suaminya selalu marah-marah ketika ia ingin belajar karena menurut suaminya, ibu itu sudah terlalu tua untuk belajar, sayang uangnya dan tak ada gunanya jadi sarjana.

Bukan satu-dua kali saya mendengar kata-kata seperti ini, bahkan dari teman-teman kuliah sendiri. Alhamdulillah, Mas Ajid tak pernah berkata seperti itu. Malah dia juga yang meminta saya mengambil S2 untuk bidang ini. Hanya kali ini, saya masih berpikir dulu. Fakultas khusus di bidang penerjemahan sepertinya hanya sampai S1. Berbeda dengan bidang psikologi. Sayangnya, saya tak tertarik meneruskan bidang psikologi karena memang saat itu mengambil karena ingin tahu saja. Walaupun IPK Psikologi juga sangat memuaskan (3,43) saya tak terlalu menikmati prosesnya.

Setiap usaha selalu dihargai dengan hasil yang luar biasa. Saya bersyukur dengan segala berkah Allah SWT, dengan anak-anak yang menjadi penyemangat dan suami yang selalu membantu.

Kemandirian anak-anak dan pengertian suami yang membuat saya berhasil meraih semua yang saya impikan.
Sekali lagi, inilah awal langkah baru setelah semua yang kami lalui.

Saya bukan lagi Iin yang sama dari 3,5 tahun. Kampus telah mengubah diri menjadi seseorang yang berbeda, dengan karakter yang jauh lebih baik. Langkah ini telah mengubah dunia saya dan saya berhasil melakukannya dengan baik.

Semoga pula, langkah baru saya membuat dunia yang lebih baik untuk orang lain.

Sepatu Hilang

Ceroboh ternyata sifat keturunan!

Itu kesimpulan pribadi saya setelah mengamati tingkah polah Kakak selama ini.

Bukan hal yang aneh kalau saya mengadu pada Ayah.

Tadi helm ketinggalan di tukang jus, atau tas tangan ketinggalan di cafe waktu rapat, dompet di laci kantor, ponsel lagi dicharge di restoran pun bisa ketinggalan. Untungnya semua barang itu bisa kembali.


Tapi jangan tanya berapa kali barang-barang bawaan itu hanya tinggal cerita. Tas isi mukena tertinggal di mesjid, earphone set tertinggal di wisma saat wisuda, charge ponsel tertinggal di hotel saat berlibur, bahkan belanjaan saja pernah tertinggal di taksi dan itu masih banyak lagi.

Saking biasanya kehilangan, saya selalu memilih barang-barang pribadi yang murah-murah saja, toh paling juga ilang suatu hari nanti. Begitu ilangpun, ya sudah biasa saja. tak perlu dibahas tak perlu disesali. Siapapun yang menemukan saya berharap mereka menggunakannya dengan lebih baik.

Ternyata si Kakak juga sama. Malah anak saya yang satu ini ratunya ngilangin barang lebih dari emaknya. Entah karena teledor dan ceroboh seperti saya, namun kadang memang dicuri orang. Payung, ponsel, tas, uang, bahkan alat tulisnya yang super komplit dan buku sekolahpun pernah ilang.
Padahal dalam urusan kebersihan dan kerapian, Kakak tergolong perfeksionis. Saya menyebutnya begitu, karena kakak tak bisa melihat barang-barangnya terkena noda, kotoran bahkan lecet sedikit. Dia akan langsung membersihkannya sendiri meski menurut orang-orang kayak emaknya sih masih gak papa.

Tapi cerita hari ini memang harus diabadikan. Lucu soalnya...
Pagi hari saat tengah menyiapkan sepatu, mendadak pagi  yang tenang berubah jadi ramai. Sepatu Kakak hilang!
Anehnya, sepatunya hanya hilang sebelah...
Kakak justru tak tampak panik. Dikiranya sayalah yang menyembunyikan sepatu miliknya. BIasa... iseng. 
Padahal saya sendiri terlalu sibuk ... tidur lagi setelah sahur karena belum tidur semalaman. Ayah sampai membangunkan dan bertanya. Jelas saya langsung sewot. Baru lima belas menit memejamkan mata yang sudah tak bisa ditolerir kantuknya, eh disuruh ngembaliin sepatu. Sepatu apaan!!

Akhirnya, seisi rumah benar-benar kelimpungan mencari sepatu kiri milik Kakak. Aneh... masak ada maling ngambil sepatu cuma sebelah?
Rasa kantuk Emak sampai ilang karena penasaran. Tapi sampe keluar pagarpun tetap saja sepatu Kakak tak ditemukan. 
Analisis 'kemalingan' di TKP pun dilakukan. Pagar yang celahnya memang agak jarang itu bisa saja menjadi penyebab. Dengan kaitan sedikit panjang, gampang sekali meraih sepatu-sepatu yang seringkali diletakkan sembarangan oleh anak-anak. Nah, sepatu Kakak itu selalu terletak paling atas karena dia tak suka sepatunya ditindih sepatu atau sandal lain.

Tapi seperti biasa, kami meminta Kakak ngiklasin dan pergi ke sekolah dengan sepatu lama yang sudah sempit dan sobek sedikit. Maklumlah, Kakak juga penggemar sepatu berwarna, jadi sepatu hitam miliknya ya cuma satu, untuk ke sekolah.
Sepanjang pagi, saya masih penasaran. Bersama Ayahnya, kami mencari di sekitar rumah bahkan termasuk di jejeran pot-pot bunga yang ada di depan rumah. Nihil. Tak ada. Saya menyerah, meminta si Ayah untuk membelikan saja yang baru esok hari. Kebetulan besok hari lahir Pancasila, Kakak hanya ada jadwal upacara saja.

Karena hari ini saya masih terbebas dari rutinitas kantor, maka saat rumah sepi, saya berniat tidur. Sudah lebih dari 18 jam saya belum tidur sama sekali. Tapi belum ada lima menit naik ke kamar dan mulai memejamkan mata, tiba-tiba telepon rumah berdering dan sms bertubi-tubi datang. Siapa lagi kalau bukan si Adek, yang memberitahu, Dompet Pira Ilang!!!

Ya Allah, kapan saya bisa istirahat ya Allah?

Dengan berusaha tetap sabar, mengingat puasa yang lagi dijalanin, lagi-lagi saya meminta Adek untuk ikhlas. Udah biarin... ikhlasin...

Tapi si kecil itu kayaknya kesal banget dan terus mengeluh melalui sms. Saya nyerah. Mata terlalu ngantuk dan mengingat sejam lagi harus bangun mengendarai kendaraan untuk menjemput Adek, ponselpun dimatikan.

Tepat satu jam, saya bangun dan bersiap-siap. Menyalakan ponsel dan pesan beruntun masuk. Isinya... informasi dari Adek kalauu dompet jajannya sudah ketemu. Dikembalikan oleh.... siapapun malingnya yang menurut Adek takut ketika Adek dan teman-teman baiknya mengancam akan mengadu ke guru. Jiah... anak-anak!!
Saya memilih tak membahas apapun soal kehilangan selama masa berpuasa, tapi begitu magrib tiba, saya menggoda anak-anak, membangun suasana ceria termasuk meledek Kakak.

Saya "Sakit hati itu bukan karena sepatunya hilang ya Kak, tapi karena yang ilang cuma sebelah, hahahaha....."

Kakak "Weeei, forget it ok!!" 

Ayah, "Udah, simpen aja sebelahnya itu, nanti hari libur Ayah cariin sebelahnya di Poncol, Banyak sepatu bekas di sana."

Abang, "Hihihi... hebat dong jadinya. Sebelah kanan dari Pasar Baru, sebelah kiri dari Poncol, Berjodoh sepatunya ya Yah!"

Kakak, "Udaah naaa.... makin kesel sama malingnya."

Untungnya kami harus menunaikan ibadah sholat magrib. Tapi bukan berarti kakak berhenti dikerjain. Begitu selesai salam-salaman, tiba-tiba Ayah kembali ke posisi berdoa.

Ayah, "Eeh, doa lagi doa lagi, Ayah lupa..."

Kami bingung, sejak kapan doa pake acara tambahan model gitu. Tapi karena beliau sang Imam di rumah, maka semuapun dengan patuh kembali ke sajadah masing-masing.

Tapi... doa Ayah kali ini berbahasa Indonesia!

"Ya Allah, sadarkanlah maling di sekitar rumah kam bahwa seharusnya kalau mau ngambil itu dua-duanya, bukan cuma satu. Buatlah ia sadar kalau mengambil satu itu membuat pemiliknya malu bukan main."

"Ayaaaah!!!"

Abang, "Kasihanilah kakakku ya Allah, semoga ia sadar kalo kaki kanannya lebih bau dari kaki kiri... weeek!" Dan Kakakpun mulai melakukan serangan fisik ke Abang, dibantu si Adek yang sempat merasakan kehilangan juga hari ini.

Maka suara tawa di rumah mungkin sudah nyampe ke jalan raya saking ramenya.

Mmm... sebenarnya itulah cara saya dan Ayah membuat anak dengan cepat melupakan masalah mereka. 

Hanya saja, usai sholat Magrib dan kami bersiap sholat taraweh, tiba-tiba mata Ayah melihat sesuatu menindih daun-daun di pot bunga. Ketika Ayah mengecek, ternyata itu sepatu Kakak!!!!

Heh?

Kami sekeluarga benar-benar dibuat bingung. Lah ini malingnya kok malah ngembaliin?

Sekali lagi Abang menganalisis. "Berarti benar, Mak! Fix dah!"

Saya, Kakak dan Ayah, "Apaan?"

"Kaki Kakak dua-duanya bau!!!"

"REZA!!!"

*****








25 Mei 2017

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP dan SMA Jakarta

Tahun 2016 kemarin saya mendaftarkan dua anak ke sekolah mereka yang baru. Satu di SMA, dan yang lain di SMP. Keduanya saya masukkan di sekolah negeri karena dua faktor. Yang pertama adalah kualitas sekolah negeri di Jakarta jauh lebih baik dibandingkan tingkat swasta. Yang kedua karena sekolah negeri selalu gratis.

Mungkin karena itulah peminat sekolah negeri di Jakarta sangat banyak, sehingga tak heran persaingannya pun sangat ketat. Bahkan banyak orangtua dari sekitar Jakarta tapi berada di daerah Bekasi, Bogor dan sekitarnya ikut mendaftar di sekolah-sekolah Jakarta karena dua faktor yang sama seperti saya. Kualitas bagus dan gratis. Alhamdulillah kedua putra-putri saya berhasil diterima di sekolah-sekolah pilihan kami sekeluarga.

Saya ingin berbagi pengalaman karena banyak yang bingung dengan mekanisme pendaftaran anak baik di SMP maupun SMA.

24 Mei 2017

Hubungan Ibu dan Anak

Belakangan saya baru sadar kalau hubungan saya dengan anak-anak terbilang berbeda dengan hubungan ibu-anak lain. Ini karena banyak orang yang mulai mempertanyakannya.

Awalnya, beberapa orang bertanya saya ini kakaknya atau ibunya dua remaja saya, lalu sorot mata terkejut atau bingung yang saya tangkap saat jawaban diterima.

Semakin ke sini, saya semakin yakin kalau alasan orang-orang menganggap saya 'tak setua' umur seharusnya bukan karena penampilan yang terlihat muda atau wajah awet, tapi karena gaya bicara dan tingkah laku saya saat berinteraksi dengan anak-anak saya.

Sejak belajar ilmu psikologi secara resmi, saya memang memilih metode yang cukup kontroversi sebagai pola pengasuhan ketiga putra-putri di rumah. Pola yg bisa membuat saya bisa lebih dekat dgn anak2 dan membuat anak-anak lebih terbuka pada saya.

Alhamdulillah, pola ini juga disetujui suami. Jadi lima tahun terakhir, pola inilah yang kami pilih.

"Anak adalah pribadi berbeda, ia bukan orangtuanya, tapi ia pribadi utuh sama seperti orangtuanya, punya hak dan kewajiban yang harus diajarkan dan juga dihormati."

Selama ini kami, terutama saya, meminta bahkan mengajari anak-anak cara mengkritisi kalau ada tindakan atau tingkah laku saya atau ayahnya yang salah. Kami meminta mereka juga, bertanya jika tak mengerti alasan kami marah, agar masalah bisa diselesaikan dan bukan sekedar omelan panjang lebar tak berguna.

Kami juga membiarkan anak-anak membalas ejekan atau ledekan yang kami lemparkan. Oh ya, untuk membuat anak-anak terbiasa menghadapi bully atau ejekan mulut, kami memang sengaja sering bercanda dengan gaya ini. Tapi, di saat normal ketika ada berita atau drama tentang bully atau efeknya, saya memberi penjelasan ringan dari sisi psikologi.

Saya ingin anak-anak menganggap bully ejekan hanyalah satu tepukan kecil yang tak menyakiti. Namun, di saat yang sama mereka paham kapan dan pada siapa melakukannya.

Maka, jangan heran ketika dalam perkembangannya, anak-anak sering menyebut nama saya atau ayahnya dengan bebas, mengkritik dan membully dengan ledekan saat becanda tanpa canggung, bahkan berdiskusi serius hingga cenderung berdebat sampai menyebut nama panggilan saya atau ayah mereka. Kami sudah sangat biasa dan kalaupun sedikit berlebihan, biasanya saya langsung menegur. Tapi itu jarang sekali. Bahkan rasanya tak pernah.

Dalam setiap event atau ada masalah keluarga, saya dan ayah mereka selalu bertanya dari sudut pandang mereka. Kadang mereka juga bingung solusinya apa, tapi saya ingin mereka merasa dianggap sebagai bagian penting keluarga walaupun hanya mendengar. Keterbukaan inilah yg menjadi alasan mengapa anak2 juga terbuka pada kami.

Jika suatu ketika mendengar putri saya berkata, "Dirimu salah, Mak..." atau. Putra saya menyebut, "Mbak Iin, hari ini anakmu..." atau ketika si bungsu dengan santai mengucap, "iin itu mamaku yang paling...", anggaplah itu bagian dari cara mereka berekspresi, bukan bentuk ketidakhormatan.

Dulu sekali, ada alm. Nenek yang tak canggung dipanggil nama saja oleh putra yg ia lahirkan yaitu paman saya, seorang wanita yang berkarir politik di separuh usianya, yang mengajarkan tentang makna dihormati dan menghormati yang sesungguhnya pada saya. Dialah awal dari pemikiran bahwa anak seharusnya diasuh menjadi diri mereka sendiri, bukan fotocopy orangtuanya.

Saya ingin selalu dekat dengan anak-anak, mempelajari semua yang mereka suka, memahami yang mereka inginkan dan mengerti cara berbicara yang sesuai dengan keinginan mereka. Karena saya ada untuk mereka, bukan mereka ada untuk saya...

23 Mei 2017

Kalau Anak-anak Sering Berantem Di Rumah


Akhir pekan lalu, seorang teman mengirimi saya pesan melalui WhatsApp.
“Bun, aku bingung nih, anak-anakku sering banget berantem. Kalau lagi weekend begini, dan kami di rumah semua, mereka hanya bertengkar, berkelahi. Pokoknya rumah gak pernah damai. Mrk bru damai kalo kuajak jalan ke mal. Tapi ya cape. Aku juga pengen istirahat di rumah sesekali. Dan….”

Keluhan teman ini sebenarnya cukup panjang, tapi kita sudah mendapat inti masalahnya.

Hubungan dua anak atau lebih dalam rumah tangga memang sangat riskan terjadi masalah. Banyak faktor penyebabnya yang saling terkait. Setiap kaitan itu tak hanya sebatas antara anak dan orangtuanya, namun juga faktor lingkungan, sekolah bahkan segala hal yang turut mengisi kehidupan anak.

30 April 2017

Membuat Blog ala Pemula


Jangan pernah menyerah!
Kalimat sederhana itulah yang membuat saya memaksakan diri hampir selama seminggu terakhir ini mempelajari cara membuat blog sendiri, yang sesuai dengan keinginan. Dengan basic ilmu di bidang bahasa dan psikologi, jelas sekali saya mengalami kesulitan luar biasa memahami bahasa kode untuk membuat blog.
Selama ini, saya sudah belajar sedikit-sedikit. Tapi selalu terkendala dengan kesibukan. Berhubung akhir-akhir ini saya lebih banyak bekerja di depan komputer, maka ini kesempatan besar untuk melanjutkan pelajaran secara otodidak ini.

26 April 2017

Manika Bisnis, Bekerja dan Bersenang-senang

Beberapa minggu terakhir, saya bergabung dengan Manika. Teman-teman di medsos mungkin bertanya-tanya apa itu Manika?
Jadi Manika itu sebenarnya singkatan. Lengkapnya sih Komunitas Wirausaha Manika Bisnis. Manika sendiri artinya Mahasiswa dan Alumni Universitas Terbuka. Maka dapat disimpulkan bahwa Manika adalah komunitas wirausaha khusus untuk kalangan Universitas Terbuka yaitu Mahasiswa dan Alumni.

25 April 2017

Wisuda UT Pusat, Akhir Perjalanan Manis


Setelah berminggu-minggu tak mengisi diary, akhirnya saya putuskan hari ini nulis juga.
Kali ini mau membahas tentang wisuda di UT Pusat.
Ya akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk wisuda di UT Pusat. Dan saingannya benar-benar... ya Allah, beratnya... dengan Desi, rekan seangkatan yang memang selalu bersaing tapi berteman baik ini, selisih nilai IPK kami hanya sekitar 0,02... so, it is so close!

18 Maret 2017

Weekend Tanpa Kerja

Sabtu ini sengaja menahan semua pekerjaan dan tugas. Setelah empat hari tanpa Ayah, rasanya belum lunas kalau tak dihabiskan dengannya. Setelah Ayah kembali, saya langsung terjun bebas tenggelam menyelesaikan pekerjaan yang banyak tertunda. Boro-boro saling bercerita, kami sama-sama sibuk. Ditambah urusan anak-anak, malam pun kami langsung tidur. akhirnya Ayah dan saya tak sempat mengobrol.
Pagi hari, kami bertiga, minus Abang dan Kakak yang sedang rutin latihan, pergi membeli bunga dan tanaman baru. Saya mulai bosan dengan tanaman yang hampir tidak ada bunganya kecuali mawar-mawar kesayangan.
Pulangnya kami tak langsung bekerja di kebun  karena ternyata ada beberapa perubahan yang harus saya approve. Terpaksalah demi karir, saya mengalah juga. Untungnya si Adek mewek minta dibelikan kue pukis. Entah kesambet apa dia tiba-tiba minta kue itu. Tapi akhirnya Ayah jalan juga...
Seperti biasa, Sabtu saya tak pernah memasak dan Ayah yang mengurus dapur. Sepuluh tusuk sate ayam dan semangkuk sop kambing menjadi menu makan siang kami bertiga.
Saya dan Ayah mulai mengobrol. Mulai dari hal remeh temeh sampai masalah serius, yang menjadi rencana masa depan anak-anak. Satu keputusan dibuat dan satu rencana dipastikan. Hanya sekitar 2 jam kami bicara, tapi berasa banget pentingnya duduk membahas semua hal bersama. Andaikan tidak dibahas, masalah bisa saja terjadi.
Kami baru berkebun menjelang sore. Ah, tepatnya Ayah yang berkebun dan saya yang memerintahnya  dimana harus ditanam atau pot mana yang harus diberesin. Ayah tak mau saya ikut turun tangan, lebih baik dia yang cape daripada istrinya. Mungkin takut saya terkena kuman. 
Saat berkebun, Ayah menegur soal pekerjaan saya yang belakangan ini meningkat tajam. Bahkan 2 minggu terakhir, weekend saya full.

28 Februari 2017

Saat Membawa Anak Sambil Bekerja Dianggap Membawa Kekacauan


Bunda Iin Photography
diarybundaiin.blogspot.co.id

Soal bawa anak sambil kerja, saya jagonya...

Kakak baru berumur 40 hari lebih, saya sudah bawa dia seminggu 3x Kemayoran - Green Garden. Kebayang jauhnya kan? Semua demi ASI eksklusif. Tahun 2001 itu pemandangan ibu-ibu bawa anak apalagi bayi ke kantor merupakan pemandangan luar biasa aneh di mata kaum pria. Tapi Alhamdulillah, semua pria di kantor saya saat itu malah ikut membantu ketika Kakak yang kecilnya lumayan cengeng itu menangis saat Emaknya masih bekerja.

Kakak juga jadi jago main di bawah meja makan setelah umurnya 2 tahun, tiap kali Emaknya meeting makan siang dengan rekanan atau klien. Padahal Kakak itu dulu sempat terlambat bicara, tapi saya tak pernah mengalami kesulitan berarti tiap kali membawanya ikut serta. Gak ada istilah ngamuk-ngamuk gak jelas atau tantrum berlebihan selama masa-masa itu. Kakak cukup anteng, selama ia tidak lapar dan merasa nyaman.